“Ketika komoditas melemah dan PNBP turun, satu-satunya penopang adalah pajak. Jika terjadi perlambatan ekonomi, risiko pelebaran defisit akan semakin terbuka,” tegasnya, Senin 23 Februari 2026.
Di sisi lain, belanja negara pada Januari sudah mencapai Rp227,2 triliun sehingga defisit tercatat Rp54,6 triliun. Secara musiman, defisit awal tahun masih dalam koridor wajar, tetapi keberlanjutannya sangat bergantung pada konsistensi penerimaan di bulan-bulan berikutnya.
Noviardi memperkirakan kumulatif Januari–Februari berpotensi mendekati Rp347 triliun atau sekitar 11 persen dari target tahunan, dengan asumsi tren pajak tetap terjaga.
Baca Juga: Ekonom: Tarif Resiprokal RI–AS Ujian Ketahanan Industri Nasional
Ia menekankan bahwa optimisme fiskal awal tahun harus diimbangi dengan kehati-hatian dalam pengelolaan belanja dan upaya diversifikasi sumber penerimaan.
“Dominasi pajak memang memberi sinyal kuat, tetapi tanpa penguatan struktur PNBP dan stabilisasi sumber non-pajak, fondasi fiskal belum sepenuhnya kokoh,” pungkasnya.
Artikel Terkait
BI Rate 4,75 Persen dinilai Pengamat Hanya Menjaga Stabilitas
Jaringan Terluas, Margin Menipis: Dominasi Telkomsel Diuji
Investor Global Apresiasi Komitmen Pemerintah Perkuat Pasar Modal
Ekonom Prediksi Perputaran Ekonomi Ramadan dan Lebaran Capai 190 Triliun
Pakar Sebut Perjanjian Tarif RI-AS Bakal Buka Lapangan Kerja di Indonesia
Pengamat Soroti Efisiensi Bank Syariah Usai Dikritik Menkeu Purbaya
Tarif Trump Dibatalkan, Pengamat Ingatkan Ancaman Banjir Impor Produk AS
Ahli Keuangan Syariah Buka Suara soal Kritik Menkeu Purbaya
Ekonom: Tarif Resiprokal RI–AS Ujian Ketahanan Industri Nasional
Inflasi Tembus 3 Persen di Awal Ramadan, Ekonom: Masih Aman