Di Balik Target Defisit 2,68 Persen, Ada Disiplin Fiskal yang Disorot

photo author
Ardy Kurnia Putra, Terpantau
- Selasa, 24 Februari 2026 | 16:19 WIB
Gambar ilustrasi tulisan defisit anggaran. (Terpantau/Ilustrasi)
Gambar ilustrasi tulisan defisit anggaran. (Terpantau/Ilustrasi)

Di sisi belanja, Noviardi mendorong pemerintah memperkuat efisiensi berbasis outcome dan mempererat sinergi fiskal pusat-daerah agar tidak terjadi duplikasi program.

Sementara di sektor penerimaan, digitalisasi perpajakan dan edukasi wajib pajak dinilai penting untuk menutup tax gap tanpa menekan dunia usaha.

Baca Juga: Dukung Pembatasan Alfamart dan Indomart, Nasrullah: Demi Keadilan Ekonomi

“Ekstensifikasi pajak harus dilakukan dengan cermat. Jangan sampai upaya mengejar target justru mengganggu iklim investasi,” tambahnya.

Ia juga menekankan pentingnya koordinasi Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi melalui intervensi yang terukur.

Dengan bauran kebijakan yang tepat, target pertumbuhan 5,2 persen masih realistis, meski penuh tantangan.

Menurut Noviardi, disiplin fiskal 2026 akan benar-benar teruji bukan pada awal tahun, melainkan saat tekanan global meningkat dan belanja negara memasuki fase puncak ditengah maupun akhir tahun.

Baca Juga: Ahli Keuangan Syariah Buka Suara soal Kritik Menkeu Purbaya

 “Kuncinya ada pada konsistensi dan keberanian melakukan penyesuaian kebijakan. Disiplin fiskal bukan sekadar menjaga defisit tetap di bawah 3 persen, tetapi memastikan setiap kebijakan responsif terhadap risiko yang berkembang,” pungkasnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Ardy Kurnia Putra

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Harga Minyak Melejit, APBN 2026 Terancam Jebol

Senin, 30 Maret 2026 | 11:38 WIB
X