Terpantau.com Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa pemberian insentif untuk mobil listrik dan motor listrik bertujuan untuk mendorong hilirisasi dan pertumbuhan manufaktur di Indonesia.
“Ini juga dalam rangka mendorong hilirisasi dan insentif ini kita pelajari dari negara-negara lain yang penggunaan motor dan mobil listriknya jauh lebih tinggi dari Indonesia,” ujarnya dalam acara Outlook Perekonomian Indonesia 2023 Menjaga Resiliensi Ekonomi Melalui Transformasi Struktural yang disiarkan secara daring.
Insentif merupakan satu dari empat tantangan dalam hilirisasi yang bertujuan untuk mewujudkan transformasi struktural dalam industri manufaktur.
Baca Juga: DPR RI Dukung Presiden Jokowi untuk Jadikan Indonesia Raja Baterai Kendaraan Listrik
Insentif harus ramah terhadap investor dan ramah kepada market. Pemberian insentif untuk mobil dan motor listrik juga telah disampaikan Pemerintah Indonesia saat berkunjung ke Brussel.
“Jadi insentif ini juga perlu dan kita perlu melakukan benchmarking terhadap insentif-insentif apa yang dilakukan negara-negara lain khususnya negara-negara kompetitor,” katanya.
Tantangan lain yang harus dihadapi industri manufaktur dalam melakukan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah adalah sumber daya manusia yang kompeten. Pasalnya, setiap tahunnya sektor manufaktur membutuhkan paling kurang 600 ribu tenaga kerja baru.
Pasar Ekspor baru
Kemudian, perluasan kerjasama internasional untuk membuka pasar ekspor baru turut menjadi tantangan dalam hilirisasi manufaktur.
Pemerintah telah menetapkan Eropa dan Afrika sebagai target pasar ekspor. Indonesia pun mendorong percepatan penyelesaian perundingan IEU-CEPA yang akan membawa manfaat sangat besar bagi kedua belah pihak.
“Khususnya bagi industri manufaktur agar barang-barang kita bisa bisa lebih mudah dikirim ke Eropa sebagai market yang cukup besar. Afrika juga negara-negara non traditional market yang harus kita ekspor,” ujarnya.
Baca Juga: Digugat Uni Eropa Soal Nikel, DPR Minta Pemerintah Segera Siapkan Strategi untuk Banding ke WTO
Sedangkan tantangan keempat dalam hilirisasi adalah tekanan dari international trade dan diplomasi nikel seperti gugatan ekspor nikel di World Trade Organization (WTO).
Lebih lanjut Agus menyampaikan bahwa hilirisasi telah banyak menorehkan success story. Seperti hilirisasi manufaktur di agro industri subsektor kelapa sawit dengan nilai tambah yang sangat jelas.
Artikel Terkait
Spesifikasi dan Harga Alva One, Motor Listrik Canggih dan Lincah
APBN Cekak, Kemenhub Bakal Leasing Kendaraan Listrik Untuk Kendaraan Dinas Pemerintah
Jokowi Tegaskan Pemerintah Siapkan Ekosistem Kendaraan Listrik
Badan Anggaran DPR RI Soroti Kebijakan Subsidi Kendaraan Listrik
Libur Natal dan Tahun Baru dengan Mobil Listrik, Jangan Panik Ada 10 SPKLU di Sepanjang Jalan Tol