Terpantau.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta perhatian dan pembinaan terhadap lembaga-lembaga pendidikan, termasuk pondok pesantren untuk mencegah terjadinya kembali kasus kekerasan seksual atau pencabulan.
Hal tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) sekaligus Menteri Agama (Menag) Ad Interim Muhadjir Effendy seusai menghadap Presiden Jokowi.
“Tadi beliau memberikan arahan supaya itu terus diadakan pembinaan di lembaga-lembaga pendidikan, termasuk sekarang yang sudah terjadi itu (Ponpres Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah)," jelas Muhadjir di Komplek Istana Presiden, Jakarta, Selasa (12/7).
Baca Juga: Sandi Uno Kunjungi Wonosobo, Jadikan ADWI Program Unggulan Untuk Fokus Ciptakan Lapangan Kerja
Muhadjir menyatakan perlu dilakukan mitigasi agar kasus serupa tak kembali terjadi. Sementara untuk para korban, Presiden Jokowi juga meminta agar diberikan layanan pemulihan trauma (trauma healing).
"Presiden meminta supaya ada perhatian kepada lembaga-lembaga pendidikan termasuk di dalamnya lembaga pesantren agar hal itu tidak terjadi lagi," tuturnya.
Lebih lanjut Muhadjir mengatakan, media massa pun memiliki peran untuk meningkatkan kewaspadaan seluruh masyarakat dalam memantau kegiatan anak-anaknya.
Baca Juga: Aliran Dana ACT Diduga Mengalir ke Kelompok Teroris
"Melalui pemberitaan kasus-kasus kekerasan seksual ataupun pencabulan di lingkungan pendidikan, maka masyarakat akan lebih berhati-hati dan selektif dalam menetapkan arah pendidikan anak-anaknya, termasuk juga teman sebayanya," sambungnya.
Diketahui sebelumnya, kasus dugaan pencabulan santriwati terungkap di Jombang, Jawa Timur, dengan tersangka Mochammad Subchi Azal Tsani (MSAT) alias Bechi, yang juga anak dari tokoh agama kyai Muchtar.
Dalam proses penangkapan Bechi, sempat terjadi penolakan dari warga pondok pesantren sehingga berlangsung cukup lama untuk menghindari bentrokan. Polisi akhirnya menurunkan ratusan personil untuk bisa menangkap Bechi.***