Cu An Kiong berarti Istana Ketentraman Welas Asih.
Ada satu rahasia di klenteng ini yakni ruang utama klenteng yang berisi altar Tian Shang Sheng Mu berada di belakang dan tidak terbuka untuk umum.
Wihara atau klenteng berlanggam klasik Fujian, dengan bentuk bangunan khas daerah Cina bagian selatan yang berbentuk persegi empat atau siheyuan yang memiliki atap-atap ekor walet.
Atap Ying Shan dengan bentuk ekor walet atau Yinwei Xing ini baru populer pada masa Dinasti Qing yang berkuasa antara tahun 1644-1911.
Jenis atap ini hanya boleh digunakan sebagai atap bangunan kuil serta bangunan kantor dipenuhi oleh simbol-simbol keberuntungan.
Atap dengan ornamen atau simbol ekor walet dipercaya sebagai tolak bala.
Pada bagian atap klenteng Cu An Kio dijaga dua naga yang saling berhadapan menghadap Huo zhu, mutiara Budha yang berbentuk bola dunia.
Sedangkan di belakang pintu gerbang ada dua patung penjaga.
Dewa utama dalam klenteng ini adalah Dewi Ma Zu atau sering disebut Mak Co atau dalam bahasa Hokkian diucapkan sebagai Thian Siang Sing Bo atau Sang Dewi Samudera atau juga Dewi laut.
Sejarah berdirinya klenteng atau wihara ini juga penuh warna.
Dikisahkan pada masa abad ke-15, orang-orang Tionghoa mulai mendarat di sekitar Sungai Babagan Lasem.
Mereka kemudian membangun wihara atau klenteng menggunakan kayu jati yang melimpah. Bahkan sampai sekarang kedua tiang penyangga yang terbuat dari kayu jati itu belum pernah diganti.
Baca Juga: 10 Matahari Terbit yang Melatari Festival Kue Bulan
Catatan pasti tentang kapan berdirinya wihara atau klenteng ini masih belum jelas. Hal itu dikarenakan tidak ada catatan yang cukup.
Artikel Terkait
Jelajah Bangunan Wihara atau Klenteng Di Indonesia: Toasebio, Glodok Jakarta Barat (Part 1)
Jelajah Bangunan Wihara atau Klenteng Di Indonesia: Kong Hwie Kiong, Kebumen (Part 2)
Jelajah Bangunan Wihara atau Klenteng Di Indonesia: Amurva Bhumi, Jatinegara (Part 3)