Novel Penagraf Ivy, 'Draft Penuh Perhitungan'

photo author
Siwi Susilaningsih, Terpantau
- Jumat, 23 Desember 2022 | 15:15 WIB
Novel Penagraf Ivy, 'Draft Penuh Perhitungan' (Gundula Vogel)
Novel Penagraf Ivy, 'Draft Penuh Perhitungan' (Gundula Vogel)

Terpantau.com – Lanjut ya menampilkan cerita fiksi, novel penagraf atau novel yang terdiri dari cerita pendek lima paragraf.

Berbeda dengan pentigraf yang merupakan cerita pendek tiga paragraf, Novel penagraf tentunya cerita pendek yang terdiri dari lima paragraf.

Novel penagraf yang diunggah kali ini berjudul Ivy. Ivy berkisah tentang percintaan seorang gadis yang hampir patah hati karena ditinggal kekasihnya namun oleh suatu keadaan mereka bertemu lagi dengan berbagai kisah pelik yang membelit mereka.

Stay tune ya.

Baca Juga: Wingko Babat, Makanan Tradisional Indonesia Terkenal Dari Semarang, Dapat Dibeli Dimana?

Draft Penuh Perhitungan

Aku putuskan keluar kamar di pagi ini, sesekali jogging keliling hotel, yang belum sempat aku jelajahi karena banyaknya hal tak terduga yang kualami. Meja resepsionis kosong, mungkin penjaganya sedang ke pantry atau entah ke toilet. Menyeberangi lobby, aku keluar. Ada children playground yang bagus. Merry Go Round, See Saw dan ayunan, adalah tempat favorit. Ada bangku untuk sekadar menunggu, sambil memandangi anak-anak yang bermain. Atau menunggu kekasih yang sedang jauh? Boleh juga. Kulanjutkan langkahku mengikuti jogging track yang ada. Pemandangan yang indah. Danau Toba serasa di depan mata. Di dataran yang agak tinggi aku bisa memandang sekeliling. Hutan cemara dan hutan pinus, menambah rasaku kian menghumus.

Tak apa. Sesekali aku bermanja dengan suasana romantis ini. Tak boleh ditepis. Nikmati saja. Ikuti saja iramanya. Ikuti alurnya dan mainlah. Kubiarkan segala rasa yang ingin menyusup ke paru dan nadiku. Biar lengkap sudah, jika pedih perih ikut serta di dalamnya. Tidak boleh memilih yang menyenangkan saja. Ada banyak pine cone berterbangan, dan sungguh aku suka cita memungutinya. Tidak tahu, aku suka saja.

Baca Juga: Mengenal 7 Antifon O Pada Masa Adven Periode Kedua, Dari O Sapientia Hingga O Emmanuel

"Bu Ivy..." Rio berlari-lari dari arah children play ground. Dia terengah-engah. Aku membatin, ini Rio kenapa? Habis main di children play ground. Duh, pagi-pagi ada apalagi? Begitu sampai di depanku Rio bercerita kalau tadi menelponku, mengetok kamarku dan mencari kemana-mana, tapi tak ketemu. Kutanyakan mengapa mencariku? Dengan polosnya Rio berkata kalau dia disuruh Diaz untuk menjagaku, jangan sampai tak ketahuan aku pergi kemana. Jangan-jangan Diaz ini dukun ya, koq dia bisa merasa kalau hari ini aku berencana kabur.

Aku mengikuti Rio menuju meja resepsionis. Aku minta tolong Rio untuk mengambilkan aku teh tawar di pantry. Rio menuruti permintaanku. Buru-buru aku lihat, catatan para tamu di belakang meja. Ya ampun. Tentu saja Diaz tahu jadwalku akan kemana saja. Dia juga tahu akan kedatanganku sejak pertama aku tiba di Pangururan. Tidak mustahil kalau pertemuanku yang pertama kali di Bukit Doa Sinatapan itu sesuatu yang direncanakan. Bukan kebetulan. Lalu pertemuanku dengan Ruth di gereja St. Mikhael? Tuhan. Ampun. Aku benar-benar lugu dan bodoh.

Suara langkah kaki Rio mendekat, membawakanku teh hangat. Setelah kuucap terimakasih padanya, teh kubawa ke kamar. Dalam hati aku sudah mengutuki diri dan dengan gegap gempita dalam hati, akan membuat perhitungan dengan Diaz. Oh ada yang terlupa. Aku balik lagi menuju Rio, dan bertanya, kapan Bu Ruth kembali dari Jakarta. Dari Rio aku tahu, Ruth akan kembali besok sore. Sekali lagi kuucap terimakasih dan aku tersenyum. Rencana perhitunganku mulai terdraft rapi.

SDS. 14.05.2020. ***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X