TERPANTAU, JAKARTA – Penurunan prevalensi stunting nasional menjadi 19,8 persen pada 2024 dari 21,5 persen di 2023 menjadi sinyal positif perbaikan kualitas gizi masyarakat. Namun, di balik capaian tersebut, ketimpangan antarwilayah masih menjadi persoalan mendasar yang belum teratasi.
Data menunjukkan disparitas yang tajam, dengan Papua Pegunungan mencatat prevalensi sekitar 40 persen, disusul Nusa Tenggara Timur sebesar 37 persen dan Sulawesi Barat sebesar 35,4 persen. Sementara itu, Bali berada pada level terendah di kisaran 8,6–8,7 persen.
Pengamat ekonomi (25/3), Noviardi Ferzi, menilai kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan stunting di Indonesia telah bergeser menjadi isu ketimpangan struktural, bukan sekadar masalah kesehatan.
Baca Juga: Yaqut Kembali ke Rutan, Ini 3 Alasan KPK Cabut Status ‘Tahanan Rumah’
“Penurunan angka nasional memang penting, tetapi tidak cukup. Ketika ada daerah dengan angka hampir lima kali lipat lebih tinggi dari daerah lain, itu artinya intervensi kita belum tepat sasaran,” ujarnya.
Menurutnya, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memiliki potensi besar sebagai instrumen strategis untuk menekan stunting secara signifikan. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada desain kebijakan yang berbasis wilayah.
“MBG bisa menjadi game changer, tetapi syaratnya satu, harus tepat sasaran. Intervensi tidak boleh seragam. Daerah dengan prevalensi tinggi seperti Papua Pegunungan, NTT, dan Sulawesi Barat harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Baca Juga: KPK Dinilai Beda Perlakuan ke Yaqut Cholil dan Lukas Enembe
Ia menjelaskan, tantangan di wilayah-wilayah tersebut tidak hanya terkait ketersediaan makanan, tetapi juga menyangkut kemiskinan, keterisolasian, rendahnya akses layanan kesehatan, serta lemahnya rantai distribusi pangan.
“Kalau MBG hanya dimaknai sebagai pembagian makanan, dampaknya akan terbatas. Program ini harus terintegrasi dengan penguatan produksi pangan lokal, perbaikan logistik, serta edukasi gizi masyarakat,” katanya.
Sebaliknya, keberhasilan Bali dalam menekan angka stunting dinilai sebagai bukti bahwa pendekatan terintegrasi mampu memberikan hasil nyata.
Baca Juga: Momen Warga Tegur Oknum Polisi yang Merokok di Jalan Raya
“Bali menunjukkan bahwa ketika ekonomi rumah tangga, sanitasi, dan layanan kesehatan berjalan baik, stunting bisa ditekan. Ini yang harus direplikasi, tentu dengan penyesuaian karakteristik daerah,” jelasnya.
Artikel Terkait
Viral Wali Murid Keluhkan Buah Salak MBG: Ada Belatungnya
Heboh Menu MBG di Kota Jambi Dinilai Tak Menggugah Selera Makan
Dokter Dion Haryadi Buka Suara soal Viral Penolakan Menu Lele MBG
MBG Kota Jambi Berisi Rendang Daging Jumbo: Terimakasih Pak Prabowo
Kasatgas MBG Pemalang: SPPG Bumirejo Dihentikan Sementara
Viral Guru SD di Palembang Curhat soal Pembagian Paket MBG hingga Malam
SPPG Telat Antarkan MBG, Menu Semangka Mentah Disorot
Pandji Pragiwaksono Sentil Menu Fish and Chips untuk MBG Ramadan
Ekonom Ungkap Dampak Besar MBG jika Dikelola dengan Baik
Curhat Guru yang Ikut Bagikan MBG ke Siswa, Begini Aturan BGN soal Insentif PIC Sekolah