nasional

Pengamat Sorot Ketergantungan Logam Dasar, Manufaktur RI Bangkit

Selasa, 24 Maret 2026 | 12:15 WIB
Pengamat ekonomi Dr. Noviardi Ferzi (Ist)

TERPANTAU, JAKARTA – Di tengah optimisme pemulihan ekonomi nasional, sektor industri manufaktur kembali menunjukkan perannya sebagai tulang punggung pertumbuhan Indonesia.

Namun di balik kinerja yang tampak solid, tersimpan tantangan struktural yang menuntut perhatian serius agar momentum ini tidak rapuh dalam jangka panjang.

Pengamat ekonomi, Noviardi Ferzi, pada hari Selasa, 24 Maret 2026, menilai kinerja industri manufaktur Indonesia sepanjang 2021–2025 menunjukkan pemulihan yang kuat pasca pandemi, namun masih menyimpan sejumlah kerentanan struktural yang perlu segera dibenahi.

Baca Juga: Pengunjung Viralkan Mobilnya Kempes usai Parkir di Kawasan Monas

Menurutnya, lonjakan pertumbuhan sektor manufaktur dari 5,45% pada 2021 hingga mencapai puncak 10,75% di 2022 menjadi sinyal rebound yang sangat agresif.

Meski kemudian melandai dan stabil di kisaran 5–6% hingga 2025, kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional tetap dominan di level 18–19 persen.

“ Data beberapa tahun ini menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi jangkar utama ekonomi nasional. Tapi kita tidak boleh terjebak pada euforia angka agregat, karena di dalamnya ada ketimpangan antar subsektor,” ujar Noviardi.

Baca Juga: Momen Warga Unboxing Bingkisan dari Open House Prabowo

Ia menyoroti dominasi subsektor logam dasar yang tumbuh paling cepat, bahkan menembus dua digit hingga 15,71% pada 2025.

Pertumbuhan ini, kata dia, tidak terlepas dari kebijakan hilirisasi nikel yang mendorong transformasi ekspor dari bahan mentah menjadi produk bernilai tambah seperti feronikel, stainless steel, hingga bahan baku baterai kendaraan listrik.

“Keberhasilan hilirisasi memang nyata. Nilai ekspor logam melonjak drastis dalam beberapa tahun terakhir. Tapi masalahnya, struktur pertumbuhan kita menjadi terlalu bertumpu pada satu mesin saja, yakni logam dasar,” tegasnya.

Baca Juga: Warganet Benarkan Pernyataan Prabowo soal Tragedi Pembakaran Fasilitas Negara

Di sisi lain, subsektor lain seperti tekstil dan elektronik dinilai masih tertatih dalam pemulihan, sementara makanan-minuman dan kimia-farmasi tumbuh lebih moderat. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa transformasi industri belum sepenuhnya inklusif.

 

Halaman:

Tags

Terkini

Simak, Masyarakat Miskin Makin Mudah Punya Rumah

Rabu, 15 April 2026 | 20:48 WIB

Indonesia Jadi 'Cahaya' di Mata Investor Global

Rabu, 15 April 2026 | 18:09 WIB