TERPANTAU, JAKARTA – Di tengah dinamika geopolitik global dan ketidakpastian pasokan energi, Indonesia mulai mengarahkan strategi baru dengan memperluas kemitraan internasional.
Kesepakatan kerja sama energi dengan Rusia dalam kerangka BRICS menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah tidak lagi bergantung pada sumber tradisional, melainkan berupaya membangun ketahanan energi yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Langkah ini dinilai sebagai bagian dari reposisi Indonesia dalam peta ekonomi global yang kian kompetitif.
Baca Juga: Bertemu Macron, Prabowo Bahas Penguatan Kerja Sama Strategis
Selama ini data menunjukkan urgensi langkah tersebut. Konsumsi minyak nasional Indonesia saat ini berada di kisaran 1,5–1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik hanya sekitar 600–700 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari 50 persen kebutuhan minyak masih dipenuhi melalui impor.
Sementara itu, kebutuhan LPG nasional mencapai sekitar 8 juta ton per tahun, dengan tingkat impor mencapai lebih dari 70 persen untuk memenuhi konsumsi rumah tangga.
Pengamat ekonomi Noviardi Ferzi, menilai bahwa kebijakan pemerintah membuka akses impor minyak mentah dan LPG dari Rusia merupakan respon rasional terhadap dinamika geopolitik dan gangguan rantai pasok energi dunia.
Baca Juga: Alasan Prabowo ke Rusia Selain Tingkatkan Kerja Sama Energi dan Ekonomi
“Selama ini Indonesia masih sangat bergantung pada kawasan Timur Tengah. Ketika terjadi gangguan distribusi global, seperti di jalur strategis Selat Hormuz, maka risiko terhadap stabilitas energi domestik menjadi sangat tinggi,” ujarnya, Rabu, 15 April 2026.
Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia yang sempat berada di kisaran USD 75–90 per barel sepanjang 2025 lalu, turut memberi tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama dari sisi subsidi energi dan kompensasi BBM serta LPG.
Menurutnya, kerja sama yang dijajaki oleh Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Vladimir Putin tidak hanya berdampak jangka pendek dalam bentuk pasokan energi, tetapi juga membuka peluang investasi strategis di sektor hilirisasi energi.
“Ini bukan sekadar impor minyak. Ada peluang besar untuk masuk ke pengembangan kilang, transfer teknologi, bahkan energi baru seperti nuklir dan mineral strategis. Ini yang harus dimaksimalkan,” tambahnya.
Baca Juga: Putin Nyatakan Rusia Terbuka Kerja Sama Berbagai Bidang dengan RI