Noviardi juga menilai, masuknya Indonesia ke dalam BRICS memberikan ruang diplomasi ekonomi yang lebih luas, terutama dalam menghadapi dominasi pasar energi global yang selama ini terpusat.
“BRICS bisa menjadi alternatif kekuatan ekonomi baru. Indonesia harus cerdas memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi tawar, terutama dalam negosiasi harga energi dan investasi,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar pemerintah tetap berhati-hati dalam mengelola kerja sama ini, mengingat adanya potensi tekanan geopolitik dari negara-negara Barat terhadap Rusia.
“Diversifikasi itu penting, tapi keseimbangan diplomasi juga harus dijaga. Jangan sampai kebijakan energi justru menimbulkan risiko baru dalam hubungan perdagangan internasional,” tutupnya.
Baca Juga: Simak, Masyarakat Miskin Makin Mudah Punya Rumah
Kerja sama Indonesia–Rusia di sektor energi ini menjadi sinyal kuat bahwa arah kebijakan energi nasional mulai bergeser ke pola yang lebih adaptif, fleksibel, dan berbasis kepentingan jangka panjang di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Artikel Terkait
Menteng Kleb: Harapan Transisi Menkeu Purbaya Kandas
Pasar Global Bergejolak, RI Harus Perkuat Industri Pengolahan
BRI Regional Office Palembang Tancap Gas, Ribuan UMKM Nikmati KUR Rp2,34 T
Belanja Negara Meledak, Ekonomi RI Tancap Gas di Awal 2026
Pengguna BRImo di BRI Region 4 Palembang Tembus 1,98 Juta User
BRILink Meledak di Palembang, Perputaran Uang Nyaris Rp100 Triliun
Fundamental Ekonomi RI Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Rupiah
Pasar Saham RI: Reli IHSG Dinilai Rentan dan Bersifat Sementara
Airlangga: Ekonomi RI Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global
Blokade Pelabuhan Iran, Ekonom: Dampaknya Bisa Menjalar ke Daerah di RI