Noviardi juga menilai, masuknya Indonesia ke dalam BRICS memberikan ruang diplomasi ekonomi yang lebih luas, terutama dalam menghadapi dominasi pasar energi global yang selama ini terpusat.
“BRICS bisa menjadi alternatif kekuatan ekonomi baru. Indonesia harus cerdas memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat posisi tawar, terutama dalam negosiasi harga energi dan investasi,” jelasnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar pemerintah tetap berhati-hati dalam mengelola kerja sama ini, mengingat adanya potensi tekanan geopolitik dari negara-negara Barat terhadap Rusia.
“Diversifikasi itu penting, tapi keseimbangan diplomasi juga harus dijaga. Jangan sampai kebijakan energi justru menimbulkan risiko baru dalam hubungan perdagangan internasional,” tutupnya.
Baca Juga: Simak, Masyarakat Miskin Makin Mudah Punya Rumah
Kerja sama Indonesia–Rusia di sektor energi ini menjadi sinyal kuat bahwa arah kebijakan energi nasional mulai bergeser ke pola yang lebih adaptif, fleksibel, dan berbasis kepentingan jangka panjang di tengah dinamika global yang semakin kompleks.