Konsumsi BBM Melonjak, Ekonom: Stress Test Distribusi Energi

photo author
Dedi Darmadi, Terpantau
- Kamis, 26 Februari 2026 | 15:30 WIB
Konsumsi BBM Melonjak, Ekonom: Stress Test Distribusi Energi (Ilustrasi/Ist)
Konsumsi BBM Melonjak, Ekonom: Stress Test Distribusi Energi (Ilustrasi/Ist)

TERPANTAU, JAMBI/JAKARTA -- Lonjakan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) selama Ramadan dan Idul Fitri 2026 diproyeksikan meningkat signifikan. Konsumsi LPG diperkirakan naik 6,7 persen, Pertalite 11,2 persen, serta Pertamax Turbo 14,9 persen dibanding hari normal.

Di sejumlah klaster jalur tol Trans Jawa seperti Cipali dan Semarang–Solo, konsumsi Pertamax Green bahkan berpotensi melonjak hingga 92 persen.

Pengamat ekonomi, Dr. Noviardi Ferzi, menegaskan bahwa kenaikan permintaan tersebut merupakan siklus tahunan yang dapat diprediksi, namun tetap menjadi ujian bagi sistem ketahanan energi nasional.

Baca Juga: Bupati Bone Bolango Ismet Mile di Demo Tim Suksesnya Sendiri

“ Tentu hal paling krusial bukan hanya angka kenaikannya, tetapi jaminan ketersediaan di titik-titik padat seperti jalur tol dan rest area. Di situlah stres pasokan terjadi,” ujarnya, Kamis 26 Februari 2026.

Pemerintah melalui BPH Migas bersama PT Pertamina (Persero) memastikan stok BBM dalam kondisi aman dengan coverage 17–29 hari untuk berbagai jenis BBM, termasuk avtur.

Selain itu, disiapkan SPBU kantong, layanan pengantaran BBM, serta tambahan pasokan hingga 15 persen di sejumlah daerah dengan mobilitas tinggi.

Menurut Noviardi, angka coverage di atas dua pekan relatif memadai untuk mengantisipasi kenaikan mobilitas mudik yang diperkirakan mencapai 25–30 persen. Namun ia mengingatkan bahwa distribusi harian harus berbasis pola konsumsi aktual, bukan hanya proyeksi agregat nasional.

Baca Juga: Jamin Mudik Aman, Pertamina Siapkan Pasokan BBM hingga Rest Area

“Stok nasional bisa aman, tetapi distribusi harus presisi. Lonjakan di Trans Jawa tidak bisa diperlakukan sama dengan daerah yang mobilitasnya rendah. Manajemen suplai per klaster menjadi kunci,” tegasnya.

Ia juga menyoroti tren meningkatnya konsumsi BBM non-subsidi seperti Pertamax dan Pertamax Turbo sebagai refleksi perubahan kebutuhan kendaraan jarak jauh. Artinya, komposisi permintaan berubah dan harus diimbangi dengan perencanaan stok yang adaptif.

Belajar dari arus balik Lebaran 2025, konsumsi BBM non-subsidi tetap tumbuh meski jumlah pemudik menurun. Hal ini menunjukkan bahwa kebutuhan energi per kendaraan cenderung meningkat, terutama untuk perjalanan lintas provinsi.

Baca Juga: Curhat Petugas Damkar yang Diteror usai Bagikan Konten ‘Fungsi Helm’

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dedi Darmadi

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simak, Masyarakat Miskin Makin Mudah Punya Rumah

Rabu, 15 April 2026 | 20:48 WIB

Indonesia Jadi 'Cahaya' di Mata Investor Global

Rabu, 15 April 2026 | 18:09 WIB
X