nasional

Kadin Minta Impor Kendaraan untuk Koperasi Merah Putih Dibatalkan

Senin, 23 Februari 2026 | 16:16 WIB
Logo Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia (Dok. Kadin)

TERPANTAU, JAKARTA — Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengimbau Presiden Prabowo Subianto membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga senilai Rp24,66 triliun dari India untuk mendukung operasional Koperasi Desa atau Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

Kadin menilai kebijakan impor kendaraan dalam bentuk utuh (completely built up/CBU) berpotensi memukul industri otomotif nasional. Selain dinilai tidak menggerakkan perekonomian domestik, kebijakan tersebut dianggap bertentangan dengan agenda hilirisasi dan industrialisasi yang selama ini digaungkan pemerintah.

“Setelah menerima pandangan dari pelaku industri otomotif dan asosiasi, kami mengimbau Bapak Presiden agar membatalkan rencana impor 105.000 unit kendaraan niaga tersebut,” ujar Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perindustrian, Saleh Husin, dalam keterangan persnya.

Baca Juga: Diduga jadi Korban Penganiayaan Senior hingga Tewas, Ini Pesan Terakhir Bripda DP

Industri Nasional Dinilai Siap

Saleh yang juga mantan Menteri Perindustrian menegaskan, pabrikan otomotif dalam negeri menyatakan sanggup memenuhi kebutuhan kendaraan operasional KDKMP.

Menurutnya, target pertumbuhan ekonomi 8 persen hanya dapat tercapai jika industri nasional diberi ruang untuk berkembang.

“Presiden berulang kali menekankan pentingnya industrialisasi dan hilirisasi untuk menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan ekspor. Maka kebijakan pemerintah seharusnya sejalan dengan semangat tersebut, bukan justru melemahkan industri yang sudah ada,” katanya.

Ia menyebut kebutuhan mobil pikap untuk KDKMP seharusnya menjadi momentum memperkuat industri otomotif nasional. Jika impor CBU tetap dilakukan, industri komponen sebagai backward linkage akan terdampak langsung.

Baca Juga: Ekonom: Tarif Resiprokal RI–AS Ujian Ketahanan Industri Nasional

“Industri komponen seperti mesin, sasis, bodi, ban, hingga elektronik berperan besar dalam rantai pasok otomotif. Jika kendaraan impor mendominasi, penyerapan tenaga kerja dan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) akan tertekan,” ujarnya.

Saleh menilai impor kendaraan utuh dalam jumlah besar sama dengan mengabaikan investasi otomotif yang telah dibangun selama bertahun-tahun di Indonesia. Padahal, industri otomotif memiliki multiplier effect besar karena keterkaitan sektor hulu dan hilirnya luas.

“Mengimpor mobil CBU dalam jumlah besar sama saja dengan mematikan industri otomotif nasional yang sedang berkembang,” tegasnya, seperti dilansir majalahprosekutor, dikutip Senin 23 Februari 2026.

 

Halaman:

Tags

Terkini

Simak, Masyarakat Miskin Makin Mudah Punya Rumah

Rabu, 15 April 2026 | 20:48 WIB

Indonesia Jadi 'Cahaya' di Mata Investor Global

Rabu, 15 April 2026 | 18:09 WIB