Noviardi juga mengingatkan adanya risiko eksternal yang dapat mengganggu momentum tersebut, mulai dari fluktuasi harga nikel global, serbuan impor murah terutama dari China, hingga tekanan inflasi pangan yang dapat menekan daya beli domestik.
“Kalau kita terlalu bergantung pada komoditas berbasis hilirisasi tanpa diversifikasi industri, maka ketika harga global bergejolak, kita akan ikut terguncang. Ini yang harus diantisipasi dari sekarang,” katanya.
Baca Juga: Prabowo Tegaskan RI Tak Pernah Komitmen Sumbang USD 1 Miliar untuk BoP
Selain itu, ia menyinggung ketergantungan terhadap proyek strategis nasional (PSN) sebagai motor investasi yang berpotensi menekan fiskal jika tidak dikelola secara hati-hati.
Meski demikian, Noviardi tetap optimistis terhadap prospek 2026, seiring dengan indikator PMI manufaktur yang masih berada di zona ekspansif pada awal tahun.
Ia menilai permintaan domestik yang kuat serta investasi berkelanjutan di sektor ILMATE dapat menjaga pertumbuhan di atas 5 persen.
Dalam konteks daerah, ia melihat peluang besar bagi wilayah Sumatera, termasuk Jambi, untuk mendapatkan efek limpahan (spillover effect) dari hilirisasi industri, terutama melalui penguatan agro-manufaktur dan potensi pengembangan rantai pasok industri logam.
Baca Juga: Ekonomi Bangka Belitung Disorot, Pengamat: Butuh Mesin Ekonomi Baru
“Jambi tidak boleh hanya menjadi penonton. Penguatan industri berbasis sumber daya lokal seperti makanan-minuman harus dipercepat agar bisa menyerap tenaga kerja dan memperkuat ketahanan fiskal daerah,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Noviardi menekankan pentingnya strategi industrialisasi yang lebih seimbang.
“Kita butuh diversifikasi, hilirisasi yang merata, dan stabilitas makro. Kalau itu bisa dijaga, maka manufaktur tidak hanya menjadi mesin pertumbuhan, tapi juga fondasi menuju ekonomi Indonesia yang lebih maju dan tahan guncangan,” pungkasnya.