Kesusastraan Sorgum, Tercatat di Pulau Jawa hingga Flores

photo author
Tim Terpantau 03, Terpantau
- Sabtu, 20 Agustus 2022 | 19:10 WIB
Relief sorgum di Candi Borobudur. (Krom dan van Erp, 1931/Dok. Balai Konservasi Borobudur)
Relief sorgum di Candi Borobudur. (Krom dan van Erp, 1931/Dok. Balai Konservasi Borobudur)

Terpantau.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan pemerintah akan memperkuat perluasan diversifikasi bahan pangan pokok di Indonesia. Dengan begitu, konsumsi utama masyarakat Indonesia akan bahan pangan pokok nantinya tak hanya mengandalkan beras.

Salah satu penguatan produksi bahan pangan pokok pengganti beras yang tengah digalakkan pemerintah adalah sorgum. Menurut Jokowi pada penyerahan penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) pada pertengahan Agustus silam, diversifikasi bahan pangan pokok yang berfokus pada sorgum mulai intens dikerjakan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam peta jalan sorgum 2024, Presiden Jokowi meminta agar Kabupaten Waingapu, NTT  menjadi prioritas penguatan produktivitas sorgum. Lalu, sejak kapan sebetulnya sorgum mulai dikenal atau, paling tidak, terlihat tumbuh di Indonesia?

Selain pada relief Candi Borobudur dan catatan ahli botani Georg Eberhard Rumphius, keberadaan sorgum turut dalam Serat Centhini (1742). Dalam Serat Centhini disebutkan cantel--bahasa Jawa untuk sorgum--turut dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Sementara di Pulau Flores, NTT, sorgum kerap digunakan sebagai pengumpamaan akan benih pertama. 

Baca juga: Jokowi Berharap Rakyat Tak Lagi Bergantung pada Beras

Dilansir dari halaman portal Kementan RI, sorgum sudah mulai dibudayakan  pada tahun 1970  di Indonesia. Tercatat ada sekitar 15 ribu hektar tersebar di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga saat ini. Pada tahun 2020 secara serius pemerintah mengalokasikan 5.000 hektar untuk menanam sorgum dan mendorong sorgum jadi pangan alternatif.

Sedangkan di Demak (2019), pemerintah mendorong agar dialokasikan  80 hektare lahan untuk sorgum. Berdasarkan catatan per hektar lahan dapat menghasilkan 8 sampai 9 ton. Jika per kilo sorgum Rp5.000 saja dapat dihitung berapa keuntungan petani?

Mengingat adanya ancaman krisis pangandan rendahnya produksi sorgum di Indonesia, tak kurang Presiden Jokowi meminta untuk membuat peta jalan pembudidayaan sorgum. Realisasinya sampai saat ini baru terpenuhi sekitar 4,355 ha dengan produksi 3.36 ton per ha.

Sasaran luas tanam sorgum pada 2023 seluas 30.000 hektare di 17 provinsi dengan estimasi produksi 115.848 ton. Sementara pada 2024, luas tanam sorgum ditargetkan mencapai 40.000 hektare dengan estimasi produksi mencapai 154.464 ton. Siap-Siap! (SDS)***

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Tasia Wulandari

Sumber: gatra.com, kementan.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Simak, Masyarakat Miskin Makin Mudah Punya Rumah

Rabu, 15 April 2026 | 20:48 WIB

Indonesia Jadi 'Cahaya' di Mata Investor Global

Rabu, 15 April 2026 | 18:09 WIB
X